Pak Harto dan Karier Militer yang Moncer Setelah Diterpa Isu Korupsi

Pak Harto dan Karier Militer yang Moncer Setelah Diterpa Isu KorupsiSoeharto di sela rapat para panglima seluruh Indonesia di Jakarta, 1957 (Foto: Sudrajat/detikcom, repro dari buku Pak Harto untuk Indonesia)
Jakarta – Soeharto mengaku pernah frustrasi karena karier militer di awal kemerdekaan terbilang mentok. Tapi, ketika kemudian berhasil menggapai jabatan panglima dengan pangkat kolonel, dia diterpa isu tak sedap: kasus korupsi.

“Pada 1959 Soeharto pernah dicopot sebagai Panglima Diponegoro dan dipindahkan ke Bandung untuk belajar di Seskoad,” kata sejarawan Peter Kasenda kepada detikcom, Kamis (8/6/2017).

Turut dicopot dari Diponegoro, ketiga anak buahnya, yakni Yoga Sugama, Ali Moertopo, dan Sudjono Humardani. Menurut Peter, Sudjono merupakan staf Soeharto bidang ekonomi yang mengusulkan dibuatnya ‘Yayasan 4 Teritorium’ yang membantu para prajurit dan ‘Yayasan Pembangunan 4 Teritorium’ untuk membantu masyarakat umum.

Selain itu, Ibu Tien sebagai istri panglima aktif membantu para istri prajurit dengan memberikan berbagai keterampilan. “Ide bisnis itu sebetulnya bagus, cuma pelaksanaan di lapangan terjadi penyimpangan,” kata Peter.

Hukuman Soeharto dengan disekolahkan ke Seskoad Bandung, lanjut Peter, tak lepas dari campur tangan Jenderal Gatot Subroto. Tanpa perlindungan dari Gatot, niscaya Soeharto akan mendapat hukuman lebih berat dari Jenderal AH Nasution, yang dikenal sangat keras terhadap praktik korupsi.

Kenapa Gatot melindungi Soeharto? Menurut Peter, karena sang jenderal punya anak angkat bernama Bob Hasan, yang banyak melakukan bisnis di lingkungan Kodam Diponegoro. Selama ini, informasi yang banyak beredar Soeharto cuma menjalin bisnis dengan Liem Sioe Liong alias Sudono Salim.

“Padahal juga dengan Bob Hasan,” ujar penulis buku ‘Soeharto, Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun’ itu.

Pendapat berbeda disampaikan Probosutedjo, adik tiri Soeharto. Menurut dia, tuduhan bahwa sang kakak melakukan korupsi sebetulnya tidak benar. Tuduhan itu dilontarkan Mayor CPM Soenarya, yang kemudian terbukti sebagai simpatisan PKI.

Saat menjadi Panglima Teritorium IV Diponegoro menggantikan Kolonel M Bachrum pada 1957, tudingan tak sedap tertuju kepada Soeharto. Ia dituding melakukan korupsi.

Probosutedjo mengakui Soeharto menjual besi-besi tua dari aset tentara yang sudah terbengkalai. Tapi uang hasil penjualan besi-besi tua itu bukan untuk kepentingan pribadi.

“Uangnya digunakan untuk meningkatkan ekonomi anak buahnya, terutama yang berpangkat rendah,” kata Probosutedjo dalam buku ‘Dari Pak Harto untuk Indonesia’.

Selama di Bandung, dia melanjutkan, sang kakak belajar bersama Jenderal Sutojo Siswomihardjo, yang kemudian menjadi salah satu korban Gerakan 30 September 1965. Di Seskoad, Soeharto banyak mempelajari teori strategi militer yang belum pernah dipelajari sebelumnya.

Dari situ karier militer Soeharto justru kian moncer. Pada 1 Januari 1960, dia dipromosikan menjadi brigadir jenderal dan menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat 11 bulan kemudian. Pada tahun itu pula dia dipercaya mengadakan hubungan dengan para atase militer di Beograd, Paris, dan Bonn.

“Pada lawatan itu ada cerita bahwa Pak Harto sempat kehilangan topi,” kata Probosutedjo.
(jat/erd)

Advertisements

Membandingkan saat mobil Presiden Jokowi & Bung Karno mogok

membandingkan-saat-mobil-presiden-jokowi-bung-karno-mogok
Merdeka.com – Mobil Kepresidenan Presiden Joko Widodo mogok saat Presiden tengah melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat. Mobil bermerek Mercedes Benz dengan tipe S600 Guard itu mengalami kendala pada pengaturan gas.

Akibat mogoknya mobil kepresidenan itu, Presiden Joko Widodo saat itu yang didampingi Ibu Negara, Iriana harus pindah ke mobil Toyota Alphard. Mobil Alphard memang sengaja disediakan sebagai mobil cadangan.

Pihak Istana menyebut mobil kepresidenan mogok karena sudah berumur di atas 10 tahun. Sampai saat ini Jokowi enggan mengganti mobil dengan yang baru.

Mogoknya mobil kepresidenan ini akhirnya juga ramai sampai menyeret Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Dia disebut belum mengembalikan mobil dinas kepresidenan. Sejumlah politikus Demokrat pun sempat kesal mogoknya mobil kepresidenan ini sampai membawa-bawa SBY.

SBY akhirnya mengembalikan mobil Kepresidenan yang masih berada di tangannya, Rabu (22/3).

Soal mobil kepresidenan mogok ini bukan pertama kali. Ada kisah unik saat Presiden Soekarno mogok di Cipanas, Bogor.

Kisah ini terjadi tahun 1950an. Saat itu Presiden Soekarno baru menghadiri acara di Istana Bogor. Kendaraan melaju ke arah Cipanas, Bogor.

Saat itu tak ada protokoler atau pengawalan macam-macam. Cuma ada empat orang di mobil kepresidenan. Di depan sebelah sopir, duduk Pringgodigdo, menteri kehakiman saat itu.

Sementara di belakang ada Bung Karno dan di sampingnya Panglima Teritorium III Siliwangi Kolonel Alex Kawilarang.

“Waktu itu mobil presiden sama sekali tidak mendapat pengawalan. Malahan boleh dikatakan bebas saja. Kami berempat dalam mobil,” kata Kolonel Kawilarang dalam biografinya yang ditulis Ramadhan KH.

Di turunan Ciloto, dekat jembatan, mobil presiden tergelincir dan hampir menabrak tanggul. Mobil itu kemudian mogok. Tiga pejabat negara itu keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jalan.

“Tak terjadi apa-apa, cuma ganjil saja rasanya jika dikenang sekarang. Waktu itu Presiden kita begitu bebas, sampai-sampai bebas pula kalau mobilnya mengalami mogok seperti itu,” kata Kawilarang.

Cuek saja Bung Karno mengobrol di pinggir jalan. Antara lain yang dibahas soal Holiday on Ice yang baru saja digelar di lapangan Ikada yang saat ini dikenal sebagai lapangan Monas. Bung Karno pun membahas soal pemain Persib Bandung bernama Rukma yang membobol gawang kesebelasan Rusia.

Setelah mobil bisa digunakan, ketiganya naik kembali dan melanjutkan perjalanan. Selesai, begitu saja. Tak ada yang dibesar-besarkan. Untung juga tak ada insiden apa-apa, mengingat kawasan Puncak dan sekitarnya saat itu dikenal sebagai basis pemberontak DI/TII.

Kawilarang mengaku kagum pada Bung Karno dalam banyak hal. Terutama semangatnya menyatukan Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia.

“Setelah Bung Karno meninggal untuknya masih berlaku ungkapan ‘walau bintang sudah tiada, tetapi cahayanya masih tetap gemerlapan,” kata Kawilarang mengutip Ernst Krauss di buku Anna Pavlova.

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/membandingkan-saat-mobil-presiden-jokowi-bung-karno-mogok.html