PUKULAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

 

Oleh :

Dimas Mahendra (B71214035)

Orang yang pekerjaannya mengajar, mebangun karakter, menambah wawasan, memantau dan mengawasi kelakuan peserta didik disekolah, yah itulah seorang guru. Sosok yang memberi suri tauladan baik terhadap peserta didiknya. Didalam dunia pendidikan kita sudah banyak kasus yang sering terjadi karena adanya pukulan dalam dunia pendidikan. Sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan pukulan yang mendidik dalam dunia pendidikan?

“Pukulan sendiri dalam dunia pendidikan adalah tahapan dimana ketika seorang peserta didik melakukan kesalahan dan telah diingatkan berulang kali namun tetap saja tidak perubahan, disinilah seorang guru akan melakukan pukulan yang mendidik. Pukulan mendidik sendiri itu ada yang bersifat psikis dan ada yang fisik. Kalau psikis itu cenderung akan meninggalkan bekas yang mendalam, sedangkan kalau yang bersifat fisik ini adalah pukulan yang bersifat sewajarnya seperti mencubit atau dijewer”menurut Siswoyo, MPd selaku badan kesiswaan di SMPN1 Sedati, Sidoarjo.

Beliau juga sepakat kalau sifat pukulan mendidik itu boleh dilakukan seesuai kadar kesalahan yang dilakukan murid tsb. Cuma disini beliau menambahakan bahwasannya para pendidik itu lemah di administrasinya. ”seharusnya setiap guru itu selalu punya catatan dalam sehari-harinya terkait kejadian apa yang terjadi ketika dia mengajar, dan ketika ada siswa yang bermasalah berapa kali dia mengingatkan hingga adanya pemberian hukuman. Apalagi sekarang kurikulum 2013 yang lebih banyak penilaian yang sifatnya akademis untuk diisi, sehingga catatan kepribadian bahkan catatan harian siswa jadi terabaikan” cetus beliau.

Menurut beliau yang jadi pengontrol anak didik itu orang tua, sedangkan orang tua sendiri harus selalu berkomunikasi dengan guruyang aktiv disekolah baik wali kelasnya ataupun bagian kesiswaan dan BP. Beliau mencontohkan dengan kemajuan diera modern seperti sekarang, seharusnya tidak ada lagi alasan untuk tidak bisa menjalin komunikasi mulai dari membat grup di medsos seperti WA yang berisi orang tua murid dengan wali kelas atau kesiswaan. Dengan terbangunnya relasi yang baik antara orang tua dan guru serta muridnya, maka tidak akan ada yang namanya penuntutan dikarenakan anaknya dimarahi oleh guru ketika melakukan kesalahan, dan si anak pun tidak akan keberatan ketika dihukum karena menyadari kesalahannya.

Ditempat yang berbeda, salah satu staf Dinas Pendidikan kota Bangkalan mengatakan, “didalam dunia pendidikan tidak boleh ada yang namanya pukulan baik itu bersifat fisik maupun psikis. Peserta didik harus dibaik-baiki, halus dalam bertutur kata, bahkan jika ada murid yang malas untuk kesekolah ketika ujian, seorang guru harus datang kerumahnya dan mengajak dia kesekolah”.

Beliau juga menambahkan bahwa perlunya ada kerja sama antara guru dan wali murid ketika menemui kenakalan yang disebabkan oleh peserta didik tsb. Komunikasi dan keterikatan emosional sangat dibutuhkan untuk mengganti yang namanya pukulan.

Melihat perbedaan  pendapat disini antara salah satu pegawai dinas pendidikan dengan salah satu staff kesiswaan di SMPN 1 Sedati. Tentunya telah menggambarkan betapa ranconya dunia pendidikan kita. Namun diakhir ternyata kedua belah pihak mengutarak hal yang sama yakni sama-sama membutuhkan apa yang dimaksud dengan komunikasi dan keterikatan emosional. Dan disadari atau tidak yang namanya memanjakan peserta didik dan senantiasa mengikuti apa keinginannya itu merupakan bagian dari pukulan mendidik yang menyerang psikisnya. Pukulan sendiri adalah suatu bentuk perkara yang sifatnya menyadarkan. Ketika sianak dimanja dan sadar akan kesalahannya meskipun membuuhkan waktu yang lama, itu juga dapat diktakan sebagai pukulan mendidik. Jadi disadari atau tidak pukulan mendidik tetap diterapkan dizaman yang katanya tidak boeh memukul baik yang sifat fisik atau psikisnya, Cuma aga dirubah polanya dengan memanjakan siswa serta membangun relasi yang baik dengan wali murid dan peserta didiknya.